Team Work

Kelompok 2 Mata kuliah TIK Mensi 2014.

Showing posts with label Sulawesi. Show all posts
Showing posts with label Sulawesi. Show all posts

Monday, December 22, 2014

Air Terjun Limbong Kamandang


Air Terjun Limbong Kamandang adalah objek wisata alam yang terletak  di desa Kurra, kecamatan Tapango kabupaten Polewali Mandar. Limbong Kamandang berjarak sekitar 4 km dari pusat ibukota kecamatan Tapango. Untuk menuju ke objek wisata ini rute yang dapat dilalui dari kota kabupaten Polman adalah ke arah kecamatan Wonomulyo terlebih dahulu, setelah itu berbelok ke arah kanan (jalur ke kecamatan Tapango) titik beloknya adalah tepat di sebelah tugu ayam sebelum Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum di Wonomulyo. Dari sini perjalanan akan menempuh jalur melewati desa Riso, desa Kalimbua, hingga sampai ke desa Kurra.
 
Rute yang dilalui bukanlah rute yang mudah dan mulus dengan aspal yang halus, ada banyak jalan  dengan kemiringan yang cukup ekstrim, belum lagi jalan dengan lapisan beton dan lapisan aspal dengan batuan yang sudah mulai lepas. Saat musim hujan, jalan ini kadang ditumbuhi lumut, karena itu cukup licin untuk para pengendara kendaraaan beroda dua. Jika dilihat dari kondisi fisik jalan maka kendaraan beroda empat akan sulit melalui wilayah ini dan terbatas hanya pada beberapa wilayah desa saja di kecamatan Tapango.

Air terjun Limbong Kamandang dapat terlihat dengan sangat jelas dari atas jembatan dimana dibawahnya mengalir sungai dengan aliran dari air terjun, hingga dari sini kita dapat memandangi Limbong Kamandang dari kejauhan, dan nampak sangat indah.

Tepat dibawah jembatan mengalir sungai dengan batuan sungai berukuran cukup besar dan dari sini terlihat dasar air terjun dengan tingkatan yang terus menerus menurun hingga ke arah jembatan.

Untuk menikmati lebih dekat Limbong Kamandang maka anda dituntut berjalan sejenak dengan jarak yang cukup dekat dari jembatan, masuk ke kawasan air terjun untuk sampai ke dasar air terjun. Dasar air terjun cukup aman untuk dijadikan tempat berendam, dengan air yang jatuh tak pernah henti dan debitnya cukup deras. Ada yang khas dari Limbong Kamandang seolah-olah ia punya dua sumber aliran air utama dengan sebuah batang pohon yang berdiri nyaris tegak. Entah telah berapa lama batang pohon besar ini ada, tampaknya ia sudah berusia cukup tua, buktinya ia ditumbuhi lumut dan tumbuh-tumbuhan. 

Untuk soal debit dan volume air yang jatuh, maka limbong kamandang tak perlu diragukan lagi, anda dapat menikmati air yang cukup deras dengan suasana pegunungan Kurra yang cukup dingin. Di sekeliling air terjun ditumbuhi pepohonan yang hijau yang menyimpan air hingga menambah suasana dingin di kawasan ini.
 
Jika butuh kesegaran, kealamian, dan suasana yang asri maka Limbong Kamandang bisa menjawab keinginan anda.  Ingin merasakan dingin dan segarnya air terjun Limbong Kamandang, maka pilihan untuk berendam dan mandi disini dapat menjadi pilihan utama ketika berwisata atau mengunjungi tempat ini. Hempasan air terutama di bagian dasar air terjun cukup deras, dan bagi mereka yang mencari keseruan mandi dengan sedikit teriakan-teriakan pelepas stress maka disini ada dapat melakukan semuanya.

Wisata air terjun Limbong Kamandang saat ini masih cukup jarang dikunjungi, jaraknya yang cukup jauh, akses jalan yang menantang dengan pendakian curam dan terjal menjadi beberapa alasan mengapa objek wisata ini bisa dikatakan sepi pengunjung. Singkatnya kealamian air terjun ini masih terjaga dengan baik, karena ia didukung oleh kondisi alam disekitarnya dan objeknya yang jarang terjamah.

Sumber: http://kpbwm.or.id/wisata/polewali-mandar/514-foto-air-terjun-limbong-kamandang-si-cantik-dari-desa-kurra-tapango-polewali-mandar.html

Posted by: Gustyan Ubai Anggie P

Friday, December 12, 2014

Benteng Keraton Buton

Benteng Keraton Buton merupakan salah satu objek wisata bersejarah di kota Bau-bauSulawesi Tenggara. Benteng peninggalan Kesultanan Buton tersebut dibangun pada abad ke-16 oleh Sultan Buton III bernama La Sangaji yang bergelar Sultan Kaimuddin (1591-1596). Pada awalnya, benteng tersebut hanya dibangun dalam bentuk tumpukan batu yang disusun mengeilingi komplek istana dengan tujuan untuk membuat pagar pembatas antara komplek istana dengan perkampungan masyarakat sekaligus sebagai benteng pertahanan. Pada masa pemerintahan Sultan Buton IV yang bernama La Elangi atau Sultan Dayanu Ikhsanuddin, benteng berupa tumpukan batu tersebut dijadikan bangunan permanen.
Pada masa kejayaan pemerintahan Kesultanan Buton, keberadaan Benteng Keraton Buton memberi pengaruh besar terhadap eksistensi Kerajaan. Dalam kurun waktu lebih dari empat abad, Kesultanan Buton bisa bertahan dan terhindar dari ancaman musuh.

Benteng yang terletak di Kelurahan Melai, Kecamatan Betoambari, Kota Bau-bau, Sulawesi Tenggara ini mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guiness Book Record yang dikeluarkan bulan september 2006 sebagai benteng terluas didunia dengan luas sekitar 23,375 hektar.

Benteng ini memiliki 12 pintu gerbang yang disebut Lawa dan 16 emplasemen meriam yang mereka sebut Baluara. Karena letaknya pada puncak bukit yang cukup tinggi dengan lereng yang cukup terjal memungkinkan tempat ini sebagai tempat pertahanan terbaik di zamannya. Dari tepi benteng yang sampai saat ini masih berdiri kokoh anda dapat menikmati pemandangan kota Bau-Bau dan hilir mudik kapal di selat Buton dengan jelas dari ketinggian,suatu pemandangan yang cukup menakjukkan. Selain itu, di dalam kawasan benteng dapat dijumpai berbagai peninggalan sejarah Kesultanan Buton. 

Benteng ini terdiri dari tiga komponen yaitu Badili, Lawa, dan Baluara
  • Badili (Meriam)

Obyek wisata ini merupakan meriam yang terbuat dari besi tua yang berukuran 2 sampai 3 depa. Meriam ini bekas persenjataan Kesultanan Buton peninggalan Portugis dan Belanda yang dapat ditemui hampir pada seluruh benteng di Kota Bau-Bau.
  • Lawa

Dalam bahasa Wolio berarti pintu gerbang. Lawa berfungsi sebagai penghubung keraton dengan kampung-kampung yang berada di sekeliling benteng keraton. Terdapat 12 lawa pada benteng keraton. Angka 12 menurut keyakinan masyarakat mewakili jumlah lubang pada tubuh manusia, sehingga benteng keraton diibaratkan sebagai tubuh manusia. Ke-12 lawa memiliki masing-masing nama sesuai dengan gelar orang yang mengawasinya, penyebutan lawa dirangkai dengan namanya.
Kata lawa diimbuhi akhiran 'na' menjadi 'lawana'. Akhiran 'na' dalam bahasa Buton berfungsi sebagai pengganti kata milik "nya". Setiap lawa memiliki bentuk yang berbeda-beda tapi secara umum dapat dibedakan baik bentuk, lebar maupun konstruksinya ada yang terbuat dari batu dan juga dipadukan dengan kayu, semacam gazebo di atasnya yang berfungsi sebagai menara pengamat. 12 Nama lawa di antaranya : lawana rakia, lawana lanto, lawana labunta, lawana kampebuni, lawana waborobo, lawana dete, lawana kalau, lawana wajo/bariya, lawana burukene/tanailandu, lawana melai/baau, lawana lantongau dan lawana gundu-gundu.
  • Baluara

Kata baluara berasal dari bahasa portugis yaitu baluer yang berarti bastion. Baluara dibangun sebelum benteng keraton didirikan pada tahun 1613 pada masa pemerintahan La Elangi/Dayanu Ikhsanuddin (sultan buton ke-4) bersamaan dengan pembangunan 'godo' (gudang). Dari 16 baluara dua diantaranya memiliki godo yang terletak diatas baluara tersebut. Masing-masing berfungsi sebagai tempat penyimpanan peluru dan mesiu. Setiap baluara memiliki bentuk yang berbeda-beda, disesuaikan dengan kondisi lahan dan tempatnya. Nama-nama baluara dinamai sesuai dengan nama kampung tempat baluara tersebut berada. Nama kampung tersebut ada di dalam benteng keraton pada masa Kesultanan Buton.
16 Nama Baluara yaitu : baluarana gama, baluarana litao, baluarana barangkatopa, baluarana wandailolo, baluarana baluwu, baluarana dete, baluarana kalau, baluarana godona oba, baluarana wajo/bariya, baluarana tanailandu, baluarana melai/baau, baluarana godona batu, baluarana lantongau, baluarana gundu-gundu, baluarana siompu dan baluarana rakia.

Sumber: http://wisatamelayu.com/id/object.php?a=RGtvL3dzeS9P=&nav=geo
                 http://id.wikipedia.org/wiki/Benteng_Keraton_Buton

Posted by: Gustyan Ubai Anggie P

Thursday, December 11, 2014

Air Terjun Sambabo


Selamat datang di Provinsi Sulawesi Barat. Ketika menginjakkan kaki di Bandara Tampa Padang, Kabupaten Mamuju, banyak destinasi yang akan disuguhkan oleh provinsi muda ini. Pegunungan Mamasa merupakan salah satu yang terkaya alamnya, di kawasan ini kita akan temukan sebuah air terjun dengan ketinggian 400 meter, yaitu Air Terjun Sambabo.

Air terjun Sambabo tepatnya terletak di Desa Ulumambi Kecamatan Bambam, berada 10 kilometer dari Kota Mamasa atau sekitar 300 kilometer dari Kabupaten Polewali Mandar. Menjadi kebanggaan Provinsi Sulawesi Barat tersendiri, karena air terjun ini merupakan air terjun tertinggi di Pulau Sulawesi. Untuk mencapainya, terlebih dahulu harus kita lalui jembatan gantung, lalu mendaki lembah sekitar 500 meter, kita juga akan lewati kebun kopi dan kakao.
Air terjun keluar dari puncak gunung berlapis dan di atasnya terdapat hutan asli Ulu Sambabo. Air mengalir sangat kencang bagaikan pesawat yang hendak meluncur dari landasan terbang. Untuk melihat air terjun bagian atas, tidak bisa memandang dengan berdiri tegak saja, kita harus bersandar pada batu untuk melihat indahnya air terjun dari puncaknya. Namun untuk mengabadikan moment ini, akan sedikit kesulitan karena lensa kamera akan selalu basah akibat hempasan air dari air terjun yang terbawa angin kencang.
Membahas asal mula nama Air Terjun Sambabo, konon menurut cerita rakyat, Air Terjun Sambabo dihuni
oleh burung raksasa yang buluhnya mirip plastik tidak tembus air. Burung ini berada di belakang air terjun di dalam gua batu. Pada musim kemarau, burung ini akan keluar menembus air terjun dengan mengeluarkan suara yang keras dan aneh. Siapapun yang mujur mendengar, atau bahkan sampai melihat burung raksasa ini, maka akan mendapat rejeki. Yang memiliki usaha akan berhasil dan yang belum menikah akan menemukan jodohnya, bahkan yang sedang sakit akan segera sembuh.
Burung ini menjelajah ke setiap kampung, bahkan sampai ke Pantai Barat Selat Makassar. Karena gemar menjelajah, masyarakat setempat menyebutnya “Samba Botto”, disingkat menjadi “Sambabo”, air terjunpun ikut diberi nama menjadi “Air Terjun Sambabo”.
Tidak hanya wisawatan domestik, keindahan Air Terjun Sambabo juga mampu menarik turis asing untuk datang. Air terjun bertingkat-tingkat dan terletak di tempat yang cukup tinggi ini mampu menjadi daya pikat, bahkan para turis takjub dan berani mengatakan bahwa keindahan Air Terjun Sambabo tidak kalah menakjubkan dengan air terjun Niagara di Amerika. Kemegahan tidak hanya berpusat di Air Terjun Sambabo saja, alam sekelilingnya pun menarik, terpampang di lereng pegunungan dan berada di antara batu-batu besar, juga dihiasi dekorasi hutan alami yang mengelilingi air terjun.
Jika berasal dari luar Sulawesi Barat, untuk sampai ke Air Terjum Sambabo, akses yang termudah hanyalah dari Makassar, Sulawesi Selatan. Ada transportasi udara dari Makassar menuju Bandar Udara Tampa Padang, Mamuju. Setelah itu, perjalanan bisa dilanjutkan ke Mamasa dengan menggunakan mobil sewaan atau angkutan umum. Setibanya di kota Mamasa, disarankan istirahat sejenak sebelum meneruskan perjalanan ke Kecamatan Bambam, tempat di mana obyek wisata air terjun Sambabo berada.
Di kota Mamasa, banyak fasilitas yang disediakan untuk para wisatawan, diantaranya hotel, penginapan, restoran, rental mobil, hingga pusat penjualan oleh-oleh khas Mamasa. Oleh karenanya, sebelum mengunjungi Air Terjun Sambabo, alangkah baiknya kita bertandang ke kota Mamasa terlebih dahulu.

Sumber: http://tourismnews.co.id/category/destinations/air-terjun-sambabo-saingi-niagara

Posted by: Gustyan Ubai Anggie P

Pantai Nirwana

Berbicara soal wisata di Indonesia memang tidak akan pernah ada habisnya. Tak terkecuali pulau Sulawesi. Ya, hampir semua daerah di pulau ini menawarkan tempat atau obyek wisata menawan dan menarik untuk dikunjungi.
Buton terkenal dengan wisata bawah lautnya yang kaya nan indah. Selain itu, ada juga pantai-pantai super cantik yang membuat Anda betah liburan di sana.


Salah satu pantai yang bisa ditengok adalah Pantai Nirwana. Pantai Nirwana berada di Kecamatan Betoambari, Kota Bau-Bau, Buton, Sulawesi Tenggara, pantai ini hanya berjarak sekira 10 menit dari Bandara Betoambari. Meski tidak terlalu panjang, pantai ini punya bibir yang cukup landai dan tanpa karang. Sehingga Anda bisa bebas bermain dan berenang tanpa takut ombak besar atau terkena karang. Di tepian pantai, ada saung-saung yang bisa disewa atau diduduki jika pantai sedang sepi. Di depan saung, ada wadah untuk bakar ikan dan jagung.
Hamparan pasir putih bersih dengan lambaian nyiur di sepanjang pantai, sungguh menjadi pemandangan yang mempesona ditempat ini. Airnya biru jernih dan tenang, bahkan hampir tidak ada ombak sama sekali dan juga tanpa karang. Sehingga pengunjung bebas bermain dan berenang tanpa takut ombak besar dan terkena karang.

Nirwana, namanya bagaikan seorang gadis cantik. Bahkan jika diartikan, Nirwana adalah “surga”.  Ya, memang ditempat wisata ini menawarkan keindahan pantai yang memiliki tiga kombinasi warna air laut, diantaranya putih, biru muda dan biru tua kehijauan. Ketiga air tersebut terpisah satu sama lain.
Bukan hanya itu, keindahan terumbu karang Pantai Nirwana menjadi daya tarik tersendiri para turis untuk melakukan penyelaman. Gugusan karang dan ikan-ikan serta jutaan biota laut lainnya akan menjadi pemandangan bagi pengunjung ditempat ini.
Olehnya itu, tak heran jika di pantai Nirwana ini kerap kita temui aktivitas para turis mancanegara melakukan penyelaman (diving) dan pemotretan bawah laut.
Pantai ini juga memiliki pemandangan matahari terbaik, saat terbit “sunrise” maupun terbenam “sunset”.
Yang pasti, Pantai Nirwana menyajikan keindahan alam yang lengkap, di atas dan di bawah permukaan air laut.

Sumber: http://wisatasulawesi.com/pantai-nirwana-bau-bau-menyajikan-keindahan-alam-lengkap/
Posted by: Gustyan Ubai Anggie P